Blog

Interview at Bunjil Place Library

Scott Pearce spoke about his debut novel, faded yellow by the winter, in a conversation we held at Bunjil Place Library in Narre Warren. During the conversation he outlined his process as a writer and his methods of developing a narrative and characterisation.

He also spoke about his conflicted pleasures in enjoying Australian Rules football, his engagement with the mythology of the game, toxic masculinity and the meanings of footy clubs to small towns.

Thank you to Sam Benton of Bunjil Place for facilitating the event.

The book is available for order, here.

Sayap dan Cakar

Ellen van Neervan Makanan Nyaman

“Sayap dan Cakar” was first published as “Pinions” in Comfort Food, St.Lucia: UQP, 2016.

Translated by Nuraini Juliastuti

Soto Ayam
Soto Ayam: aku makan ini tiga hari setelah Ibuku meninggal pada tanggal 9 Juli 2019.

Aku ingin tahu apa yang didapatkan burung elang itu di rerumputan

Apa yang dimakannya hidup-hidup

Rumput panjang dimana Fogarty, Sandy dan Currie berjalan

Cemerlang dalam hal tulang belulang, tangan bumerang

‘Kau yang terakhir yang kami harapkan untuk melakukan ini’

Aku tidak tahu bagaimana perasaanku, kecuali terhadap gunung-gunung

Dan jika mereka membawa artefak-artefak itu kembali

Apakah mereka akan dipulihkan?

 

 

 

USD, KHR, dan politik perasaan atas jumlah

Kesan kuat yang mewarnai perjumlaan pertama saya dengan Phnom Penh sebagian dibentuk lewat kebingungan saya atas jenis mata uang yang dipakai untuk transaksi sehari-hari. Sebenarnya ini bukan kepergian pertama saya ke Phnom Penh. Saya mengunjungi Phnom Penh di 2006 (atau mungkin 2005?). Tapi kunjungan itu begitu singkat; semua tentang kota ini terasa begitu kabur.

Saya tahu bahwa uang dalam bentuk United States Dollar (USD) digunakan secara luas di negeri ini. Juga saya tahu bahwa secara bersamaan, Cambodian Riel (KHR) juga dipakai sebagai nilai tukar yang sah. Tetapi, mungkin karena kali ini, saya akan berada di Phnom Penh cukup lama, saya makin bisa menangkap kerumitan praktis dan personal yang diakibatkan oleh pemakaian mata uang ganda tersebut.

Nuraini Juliastuti-RSP-Kunci-USD in Phnom Penh
Salah satu karakter tempat yang melangsungkan transaksi dalam USD adalah mereka yang menawarkan atau menjual barang-barang berkategori mewah. Di foto ini, saya menggunakan USD untuk membeli secangkir Cappucino. Untuk secangkir Cappucino, saya membayar USD 3.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah bahwa sebagian besar sopir TukTuk mengenakan ongkos perjalanan dalam USD. Tetapi mereka mengajukan harga yang menimbulkan kesan bahwa sesuatu yang mereka ajukan itu murah. Tergantung jarak tempuh, sejauh ini, ongkos transportasi yang saya keluarkan untuk satu kali perjalanan di dalam kota berkisar antara USD 2 sampai USD 5. Suatu kali saya bermaksud memberi ongkos tambahan, dan saya memberi seorang sopir TukTuk USD 5, dan bukan USD 2 harga yang ia minta. Kerumitan timbul ketika tiba di tempat tujuan, sopir tersebut memberi saya uang kembalian dalam KHR.

Nuraini Juliastuti-RSP-Kunci-KHR di Phnom Penh
10000 Riels, yang saya dapatkan dari sopir TukTuk.

Kebingungan yang saya alami ketika menerima kembalian itu dipicu oleh dua hal. Pertama, saya belum menguasai konversi dari USD ke KHR. Hal ini menimbulkan dugaan, atau tepatnya perasaan, bahwa apakah saya diberi jumlah uang yang lebih kecil dari yang seharusnya saya terima? Kedua, tetapi kebingungan ini lalu saya redam. Ia saya redam, dan tidak diungkapkan dalam bentuk kekesalan langsung ke sopir TukTuk. Menurut saya ia seharusnya dipendam karena ia berawal dari niatan saya sendiri untuk memberi uang lebih kepada sopir TukTuk. Ia adalah niatan yang saya sadari dipengaruhi oleh campuran dari sedikit rasa kasihan dan semangat untuk bersedekah. Tapi ternyata ia menuju pada kompleksitas perasaan lain yang mungkin masih akan menuju pada hal-hal tak terduga lainnya.

 

 

Picnic scenes (1)

Among thousands of pictures and photographs about picnic or picnicking collected by State Library of Victoria, there is a series of photos that interest me. The series was titled “Picnic Scenes,” and it is categorised under Rural Water Corporation collection. It consists of 23 photos; this writing analyses the first five photos of the series. The whole set was created by Victoria State of Rivers and Water Supply Commission Photographer.

There is no further explanation to the location of the photos, except an indication that they all took place in Victoria. But this makes the series intriguing for me. I like the uncertainty feels brought about by the series. It means I can imagine the location in accord with my knowledge of Victorian landscape. I should say it ‘the locations’ as it seems that the photos were taken in more than one place. There is a bush, a river, and a hilly scape. It can be Yarra Bend Park, or Flinders Beach. Most likely the locations were in places that I have never been into before.

Another point which I like about not knowing the exact location of the place in the pictures is because I can imagine the resourcefulness of a place, and not being confined within the popularity of a certain picnic spot. It reminds me of finding old photos in flea market; each photo would make us speculating about the people, the places, and the activities captured. What makes a place picnic spot? Perhaps a place regarded a potential picnic spot if there was a nice view to look at while enjoying picnic spread, or to take a collective photo at the end of the picnic. A place would be a perfect picnic spot when it has appropriate infrastructure to support picnic activities.

picnic scenes 2
A woman and three men by the river
picnic scenes 3
Three women and picnic food spread
picnic scenes 1
Two women washing cups
picnic scenes 5
A group of women took a souvenir photo–probably before leaving the picnic area